Opini

CINTA QAIS DAN LAILA


13 June 2017, 15:55
Dilihat   201

Apa yang sedang difikirkan olehnya disana? Adakah dia merasakan hal yang sama saya rasakan?

Begitu nada tanya yang lahir dari fikiran Qais selepas ketika sendirian. Qais merasakan benih-benih cinta pada Laila mulai tumbuh dalam hatinya. Perasaan yang selama ini pernah juga dirasakannya saat jatuh cinta untuk pertama kalinya. Kini, perasaan itu lahir untuk seorang yang lain. Dikau jauh di kota sana dan aku disini. Namun, aku merasakan benih cinta itu lahir padamu.

Qais dalam sekejap pandangan pada Laila, merasakan sesuatu yang dia sendiri tidak memahami. Rasa cinta.

Sambil merebahkan tubuhnya di atas tikar yang terbuat dari anyaman rotan, fikiran Qais melayang terbang jauh ke kota Laila, tepatnya di rumah bapaknya. Qais mengingat kembali di kala pertama kali berjumpa dengan Laila.

“Saya mencari Pak Ahmad, dan saya temannya. Adakah dia di rumah?”

Tanya Qais pada orang-orang yang ada di kediaman Pak Ahmad kala itu. Qais datang, lalu bertanya, dan matanya bertatap langsung dengan mata Laila. Seolah bersambut, Laila juga merasakan getaran pandangan itu. Qais yang hendak berjumpa dengan Papa Laila, kini justru merasakan hal yang lebih dari sekedar oerjumpaan dengan bapaknya.

Laila adalah putri dari Pak Ahmad. Memiliki paras yang ayu, rambut yang panjang lebat seperti tatanan sutra nan indah. Tampilan yang sederhana serta tutur kata yang halus. Kesemuanya itu membuat hati Qais makin terpesona padanya.

Saat fikiran Qais dilanda beribu tanya tentang Laila pujaannya, dia memberanikan diri untuk mengirim pesan melalui media komunikasi Whatapp.

“Assalamu alaikum wr wb, Gimana kabarnya?” tulis Qais dengan perasaan yang bergetar. Dia ragu akankah Laila akan menjawab pesan itu?

Lama Qais menunggu. Laila tak kunjung menjawab itu. Membuat hati Qais menjadi tidak karuan. Seolah kini dia tak lagi berpijak di atas tanah. Hatinya berdebar-debar. Sejurus dengan rasa gunda yang menyelimuti dirinya, masuklah pesan dari Laila.

“Was wr wb, Aku baik-baik saja, kak. Maaf lambat balasnya. Soalnya tadi lagi antar bapak ke apotik” jawab laila melalui pesan WA.

“Oh iya… tidak apa-apa” sambung Qais.

Setelah percakapan itu, Qais makin memendam kerinduan pada Laila. Jarak memisahkan, tapi Qais tetap berharap akan cinta Laila.

Adakah Laila merasakan hal yang sama? Tanya Qais dalam hatinya. Aku harus memberanikan diri untuk menyampaikan ini padanya. Tapi, gimana, dan kapan?

Hingga suatu ketika, Qais memberanikan diri untuk menyampaikannya pada Laila atas perasaannya.

“Laila, aku itu merasakan semacam tidak memilikimu, tapi takut kehilangan” bunyi pesan Qais pada Laila.

Laila menjawab, “maaf aku tidak mengerti, apa maksudnya?”

Membaca jawaban Laila, Qais menepuk jidatnya. “Aduh… payah ini. Gimana mengatannya dengannya terbuka” gumamnya dalam hati.

Qais lalu menuliskan perasaannya secara terbuka dan panjang lebar. Begini isi suratnya :

Surat pagi…

Laila… Adakah waktu di pagi terlewatkan tanpa merindukanmu?  Tentu tidak.  Cinta ini telah menghujam ke seluruh jiwa dan raganya,  Hingga tak ada lagi waktu yg berlalu tanpa kerinduan padamu.

Pernah suatu waktu,  Seorang menyebut nama kotamu,  Aku lantas terkenang padamu.  Ku ingat padamu,  Pada tempat dimana kita berjumpa untuk pertama kalinya.  Di kotamu memang penuh dgn misteri,  Misteri dimana hati ini menjadi terikat pada dirimu dalam sekejap perjumpaan.

Adakah yg salah jika aku mencintaimu?

Mencintai dan dicintai merupakan kodrat kita sebagai manusia.  Kecintaan itu sendiri merupakan anugrah Tuhan yg sangat berharga untuk manusia.

Saya sebagai lelaki,  dengan segala macam keadaanku hari ini,  Tidak salah jika jatuh cinta padamu.

Salam dariku :  Qais

Membaca surat ini, hati Laila menjadi deg-degan. Berdetak tak menentu. Seorang yang selama ini ia pandang sebagai teman bapaknya menyatakan cinta padanya.

Laila juga sesungguhnya menaruh hati pada Qais, namun itu ia pendam dan tidak ingin menumbuhkannya. Laila tidak ingin rasa cintanya itu akan memunculkan masalah.

Laila menjawab : “Aku juga merasakan hal yang sama. Tapi, maaf aku tidak bisa merangkai kalimat sehebat kamu” tulis Laila.

Jalinan cinta Qais dan Laila berjalan seiring perjalanan waktu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

Selamat datang di situs resmi M Rajab. Situs yang berisi informasi seputar aktifitas dan tulisan M Rajab.

Copyright © 2017 Muhammad Rajab Official Site

To Top